Yanbu’a

Yanbu’a adalah suatu metode pembelajaran membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an yang diadopsi dari Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, Kudus. Cara membacanya langsung dengan tanpa mengeja, cepat, tepat, benar dan tidak putus-putus, sesuai dengan makhorijul huruf dan ilmu tajwid. Yanbu’a ditujukan bagi anak maupun orang dewasa. Terdiri dari 7 jilid, yang dirancang secara sitematis menggunakan rosm utsmaniy dan juga menggunakan tanda-tanda baca dan waqaf yang ada di dalam Al-Qur’an, yang umum dipakai di negara-negara Arab dan negara Islam.‎ Di Pondok Pesantren Al-Inayah, Yanbu’a merupakan kelas wajib yang diperuntukkan bagi santri baru sebelum melanjutkan ke jenjang/program selanjutnya, ditempuh dalam kurun waktu 4-6 bulan.

‎Sejarah Yanbu’a
‎Lahirnya Yanbu’a merupakan hasil usulan dan dorongan alumni Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, agar para alumni selalu meiliki hubungan dengan pondok, disamping usulan dari masyarakat luas juga dari Lembaga Pendidikan Ma’arif serta Muslimat terutama dari cabang Kudus dan Jepara. Dalam rangka menjaga dan memelihara keseragaman bacaan, maka dengan tawakal dan memohon pertolongan kepada Allah tersusunlah kitab Yanbu’a yang diprakarsai oleh tiga tokoh pengasuh Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran, putra K.H. Arwani Amin Al-Kudusy (Alm) yaitu; K.H. M. Ulin Nuha Arwani, K.H. Ulil Albab Arwani dan K.H. Manshur Maskan (Alm) dan tokoh-tokoh lain, diantaranya: K.H. Sya’roni Ahmadi (Kudus), K.H. Amin Sholeh (Jepara), Ma’mun Muzayyin (Kajen, Pati), K.H. Sirojuddin (Kudus), dan K.H. Busyro (Kudus), beliau adalah mutakharrijin Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran yang tergabung dalam majelis Nulis Sakinah, Kudus.

Tujuan :
1. Ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa supaya bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar dan benar.‎

2. ‎Nasyrul Ilmi (menyebarluaskan ilmu) khususnya ilmu Al-Qur’an.‎

3. Memasyarakatkan Al-Qur’an dengan Rosm Utsmaniy.‎

4. Untuk membetulkan yang salah dan menyempurnakan yang benar.‎

5. Mengajak selalu mendarus Al-Qur’an dan musyafahah Al-Qur’an sampai khatam.‎

Cara Pembelajaran Yanbu’a:

1) Musyafahah

yaitu guru membaca terlebih dahulu kemudian santri menirukan. Dengan cara ini guru dapat menerapkan membaca huruf dengan benar melalui lidahnya. Sedangkan santri akan dapat melihat dan menyaksikan langsung praktek keluarnya huruf dari lidah guru yang ditirukannya.

(2) Ardhul Qiraah

yaitu santri membaca di depan guru sedangkan guru menyimak dengan baik. Sering juga cara ini disebut dengan sorogan. Dengan cara ini akan memudahkan guru untuk mengetahui dan membenarkan bacaan santri yang keliru.

(3) Pengulangan

yaitu guru mengulang-ilang bacaan, sedangkan santri menirukannya kata per kata atau kalimat per kalimat, juga secara berulang-ulang hingga terampil dan benar.

Siapa Yang Bisa Mengajar?

1. Yanbu’a bisa diajarkan oleh orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an dengan benar dan lancar‎.
2. Al-Qur’an bisa diajarkan oleh orang yang sudah musyafahah Al-Qur’an kepada Ahlil Qur’an.