Amtsilati

Amtsilati adalah kitab atau buku berisi metode membaca kitab kuning secara cepat, yang digagas oleh KH. Taufiqul Hakim, pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah, Bangsri, Jepara, Jawa Tengah.

Secara bahasa, kata “amtsilati” bermakna “contohku”, maksudnya metode yang digagasnya dituangkan dalam bentuk buku dengan banyak contoh agar mudah dipahami bagi yang ingin belajar kitab kuning. Amtsilati ditulis dalam buku sebanyak lima jilid: satu jilid tentang Khulashah (ringkasan dan intisari kitab Alfiyah Ibnu Malik, yang kitab aslinya terdiri dari 1000 bait nazham); dua jilid Mutammimah (berarti pelengkap dari Khulashah sebelum masuk ke kaidah-kaidah, seperti pembicaraan tentang nashab, rafa’, dan lain-lain, yang merupakan penerapan dari rumus-rumus yang ada di Khulashah). Satu jilid Qa`idati (berisi kaidah-kaidah tata bahasa Arab), dan satu jilid Sharfiyyah (berisi tentang pola-pola kata, tambahan-tambahan dalam kata, bentuk masa lalu, masa sekarang, perintah, dan lain-lain).

Proses belajar Amtsilati melalui bimbingan ustaz/ustazah yang telah khatam metode Amtsilati kepada masing-masing anak didik. Dengan kurun waktu 3 bulan para santri diberi semangat untuk mempercepat mengkhatamkan metode Amtsilati dengan target yang cukup singkat. Dengan metode cara cepat membaca kitab kuning ini, diharapkan lahirlah kader-kader yang berzikir dan berfikir.

Metode pengajaran Amtsilati

Di Pondok Pesantren Al-Inayah, setiap jilid diajarkan oleh guru spesialis masing-masing, ada spesialis jilid satu, spesialis jilid dua, dan seterusnya, ada spesialis praktik dan spesialis menilai.

Sistem yang digunakan dalam Metode Amtsilati ini mengacu pada pendidikan berbasis kompetensi (KBK) dan berbasis kompetensi (perlombaan). Anak yang pandai akan cepat selesai, anak yang kurang pandai selesai lebih lama. Hal tersebut akan menghilangkan pandangan orang bahwa anak pintar itu nakal.

Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini berorientasi pada: 1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna. 2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya.

Apabila gurunya hanya satu, anak/santri yang lulus jilid satu yang paling cerdas dan berbakat sebagai leader (pemimpin) untuk dijadikan sebagai guru atau ketua kelompok yang mengajar jilid I. Sedanngkan ustadhnya mengajar jilid II. Dengan demikian ada regenerasi dan ada rasa kebanggaan tersendiri, bahwa ia bisa jadi guru. Karena ia harus berpikir ganda bagaimana ia bisa menerima pelajaran dan ia bisa mengajarkannya. Sehingga ia akan berusaha membaca sendiri atau bertanya pada temannya yang jilid II atau ada prioritas dan fasilitas tersendiri bagi anak tersebut tentang kenaikan jilid, ataupun guru memberikan peluang waktu untuk anak yang menjadi guru tersebut.

Metode ini diusahakan dalam waktu seminggu atau 10 hari bisa khatam satu jilid. Sehari 3 sampai 4 kali pertemua, masing-masing 45 menit. Dengan perincian 10 menit pertama mengulangi Rumus Qoidati pelajaran kemarin, 25 menit penambahan materi, 10 menit terakhir menghafalkan rumus Qaidah dari pelajaran yang diajarkan tadi, kemudian bisa mengiuti ter tulis dan lisan.

Anak yang mencapai nilai 9 koma naik ke jilid II, sementara anak yang nilainya kurang dari 9 koma mengulangi dari jilid awal. Jilid dua pun proses pengajarannya sama, pada saat mengulangi jilid I, bila ada anak baru, anak tersebut bisa langsung mengikuti pelajaran walaupun sudah sampai tengah. Kemudian di test, bial ternyata bisa 9 koma, maka naik. Bila tidak, maka mengulangi dari awal. Berarti kenaikan kelas waktunya hanya seminggu atau sepuluh hari.

Untuk menjaga ingatan, maka anak pasca (senior) setiap dua hari sekali dibebani tugas menyimak rumus Qaidah dan Tatimmah dengan diabsen.

Diantara motivasi yang mendorong terlahirnya metode Amtsilati:

pertama, anggapan bahwa membaca kitab kuning itu sulit dan memerlukan kemampuan penguasaan tata bahasa Arab yang dikaji dalam kitab-kitab yang berat, seperti Alfiyah Ibnu Malik, `Imrithi, dan lain-lain, sehingga perlu kitab yang mempermudah.

Kedua, didorong oleh penemuan metode membaca Al-Qur’an Qira’ati di Semarang, sehingga dibutuhkan metode semacam itu, tetapi dalam hal membaca kitab kuning.

Ketiga, tidak semua nazhan-nazham yang dihafalkan dalam kitab kuning yang berkaitan dengan tata bahasa Arab itu digunakan ketika membaca kitab kuning, sehingga dibutuhkan yang ringkas saja.

Kelebihan Metode Amtsilati

Ada beberapa kelebihan yang dimilki metode Amtsilati ini, diantaranya adalah sebagai berikut:

a) Peletakan rumus disusun secara sistematis

b) Contoh diambil dari Alquran dan Alhadits

c) Siswa dituntut untuk aktif, semangat, komunikatif dan dialogis

d) Siswa dapat menjadi guru bagi teman- temannya

e) Rumus yang pernah dipelajari diikat dengan hafalan yang terangkum dalam dua buku khusus, yaitu rumus Qa‟idah dan Khulashoh Alfiyah.